Rabu, 27 April 2016

"Illness" Bab 1 Kebetulan, hanya kebetulan Part 1 by Cha Ijay

Bab 1

Kebetulan, hanya kebetulan



                Pagi yang cerah aku duduk di halaman rumah menjalani kehidupan seperti biasanya, tiba-tiba saja terlihat dari kejauhan terlihat mobil menghampiri kawasan ini. Tidak seperti biasanya karena kalau mobil biasa lewat ya jalan biasa tetapi mobil ini seperti sedang kebingungan mencari alamat. Kupikir mobil itu pasti penghuni baru di depan rumahku karena aku pernah menguping seseorang kalau rumah di depan sudah ada yang beli karena sejak dua tahun terakhir terpampang tulisan “dijual”. Saat aku ingin masuk ke rumah tiba-tiba saja seseorang memanggilku “Hei! Bisa kah saya bertanya?” tanya seorang pria ”oh, iya. Ada apa?” jawabku. “ apa kamu tau alamat ini?”, “oh, itu yang ada tulisan dijual.” Jawabku “oh begitu, makasih ya.”, “iya sama-sama” kataku. Lalu aku beranjak masuk ke kamarku “ah tetangga baru” terlintas sesaat di pikiranku.

                Keesokan harinya, hari-hari tidak seperti biasanya karena kalau aku duduk dihalaman selalu hening dan tenang tetapi karena ada tetangga baru semua berubah menjadi ramai. Hari pertama tinggal dia sudah membuatku kesal “kenapa harus banyak orang datang kesini sih!” gumamku, mungkin bisa aku toleransi karena ini hari pertama mereka tinggal disini tapi itu sangat membuat aku ga nyaman karena aku ga suka sama keramaian. Tiba-tiba saja pria yang waktu itu bertanya menghampiriku dan sudah kutebak gerakannya membuat aku ingin masuk ke rumah.“Hei!Jangan masuk dulu” kata pria tersebut.

“ada apa?!” jawabku dengan nada sentak. “ayo ikut merayakan hari pertama kami pindah rumah, kamu maukan jadi teman saya?” pintanya dengan tulus.

“maaf aku sibuk, ya boleh aja kenapa engga?” jawabku. “ayolah masa ga mau, saya ga ada temen nih dirumah rame-rame sama sodara aja bakal bosan kalo saya ga ada temen.” jawabnya sambil menarik tanganku dengan paksaan.

“ga usah tarik-tarik napa!”

“hahaha iya iya maaf, keliatannya kamu suka banget sendiri ya?”

“bukan urusan kamu.”

             Saat di rumahnya semua berubah seketika, terakhir kali aku melihat rumah ini kotor banget, memang sudah semestinya karena sudah dua tahun tidak di sentuh oleh orang lain. “siapa itu dy?” tanya ibunya. “ ini tetangga depan rumah kita bu.”

“hei! Siapa nama kamu, tadi saya lupa nanya nih.” bisiknya padaku. “Gaza, panggil aja itu.” jawabku.

“kenalin aku Nandy, Nandy Pilerg.” sambil melambaikan tangannya kepadaku.

“nama kamu kebagusan daripada orangnya.Namaku Gaza Noward salam kenal.”

“kamu juga sama hahaha”

                Perkenalan singkat ini sebenarnya tidak begitu cepat membuat moodku berubah, memang asik berada di keramaian tapi karena ga biasa ya itu membuat aku merasa aneh. Suasana rumah yang sangat ramai sama saudaranya, tapi anehnya Nandy ga mau gabung sama mereka dan mengajakku untuk msauk ke kamarnya. Sempat terpikir olehku apa Nandy juga pria yang suka menyendiri? Tapi keliatannya engga deh, tapi…. Ah mungkin itu hanya perasaanku saja, entah kenapa hal ini membuat aku ingin bertanya langsung sama Nandy. “eh dy..” kataku. “iya kenapa?”

“kenapa kamu ga gabung sama sodara kamu?” tanyaku.

“engga ah, males… makannya saya ngajak kamu kerumah, kalo iya tadi kamu ga mau ikut pasti nanti sendiri lagi.”

“kenapa engga suruh teman kamu kesini, kenapa harus aku?”

“mereka udah saya ajak, tapi ga pada mau kesini jadi saya keluar rumah dan ga taunya ngeliat kamu lagi sendirian di halaman rumah kamu ya saya ajak kamu jadinya hehehehe.”

                Pertanyaan yang seharusnya tidak aku lontarkan akhirnya keluar seketika oleh mulutku, tentu saja sangat canggung dan gemeteran saat bicara dengannya tapi saat sudah dilakoni ya biasa saja, terlihat Nandy memang pria yang ramah dia sangat gampang mendapatkan teman ketimbang aku yang selalu saja menyendiri di dalam rumah. Ingin rasanya punya teman sejati seperti orang-orang tetapi mungkin itu akan sulit untukku karena sifat burukku ini yang selalu mengacuhkan perlakuan orang lain, perlakuan baik ataupun buruk.

                Suasana hening seketika setelah perbincangan aku dengan Nandy sebelumnya, aku yang kebingungan melihat kamar Nandy dan Nandy yang asik membaca komiknya membuat suasana sangat hening sekali. Tidak lama dari suasana hening ini tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar Nandy dan tiba-tiba saja handphoneku berbunyi. “siapa itu?” tanya Nandy. “ini gue bro.” saut seseorang dari luar kamar. Nandy pun membukakan pintu kamarnya dan terlihat teman-temannya yang sedang senyum gembira melihat Nandy. “wah lu, katanya ga pada bisa pada dateng gua kira gua bener-bener bakal sendirian lagi.” kata Nandy. “nah, lu kan lagi ga sendirian? Itu ada temen lu?”

“oh iya, kebetulan ini temen baru gua namanya Gaza Noward, dia tetangga depan rumah gua.”
Karena suasana semakin ramai membuat aku semakin keki dirumah Nandy, ingin rasanya cepet-cepet kembali ke rumah dan kembali pada kegiatan awalku. Untungnya tadi handphoneku bunyi karena kepencet play music dan aku jadikan alasan untuk keluar dari rumah Nandy yang semakin lama semakin ramai. “nama saya Gaza, Gaza Noward. Salam kenal.. oh iya dy, keliatannya temen kamu udah pada dateng nih aku izin pulang ya kebetulan juga tadi aku di telpon ibu untuk pulang, jadi aku duluan ya.” kataku. “tapi, baru juga kita mau seneng-seneng masa pulang duluan sih?” jawab Nandy. “tapi aku udah di telpon ibu, maaf mungkin lain kali aja ya. Aku duluannya ya semuanya.”

Keluar dari rumah Nandy bagaikan keluar dari kerumunan pengroyok perampok, agak sulit mencari alasan tapi akhirnya keluar juga. Hari ini benar-benar membuatku melupakan sedikit rutinitas kebiasaanku, benar-benar sedikit merubah kebiasaanku aku benar-benar takut merubah rutinitasku kedepannya.

                Berada di dalam kamar sendiri mungkin itu yang membuatku sangat gembira, tapi entah kenapa setelah keluar dari rumah Nandy aku merasakan seperti kehilangan sesuatu. Sesuatu yang ga semestinya aku hilangkan, ahh… mungkin itu perasaan aku saja. Tidak terasa hari minggu akan berakhir dan besok harus sekolah lagi hal yang paling membuat aku tidak ingin sekolah karena upacara, selain ramai banyak orang upacara sangat panas sekali.

“za, mandi sana udah sore terus jangan lupa beresin perlengkapan buat besok sekolah terus jangan lupa buat makan malem jangan di kamar terus za.” kata ibuku. “iya bu.” jawabku. Hanya kata iya yang bisa aku lontarkan kepada ibu saat dia menyuruhku. Sebenarnya tidak hanya kepada ibu saja aku melontarkan kata itu, sering kali aku dikatakan teman kelasku “kamu gampang banget diculik za, hahaha.” karena aku gampang sekali menuruti perkataan orang yang dikenal ataupun tidak. Tapi mau bagaimana lagi dengan begini aku pikir itu cara untuk mendapatkan teman.

                Selesai mandi aku langsung membereskan semua buku pelajaranku untuk sekolah besok, kebetulan lemari bukuku dekat dengan jendela luar dan rumah Nandy sangat terlihat jelas dari jendela kamarku. Aku mulai berpikir, apa aku bisa berteman baik dengannya. Dari kejauhan aku melihat Nandy yang sedang membersihkan tubuhnya dengan handuk, memang tidak terlihat jelas karena dia menutup jendelanya dengan tirai tapi cahaya lampu yang membuat bayangan tubuhnya. Dia masih SMA tapi memiliki body yang bagus, pasti dia akan menjadi seseorang yang sangat dikagumi banyak orang. Setelah membereskan buku akupun berlari kemeja makan untuk makan malam bersama keluargaku, tapi sudah seminggu ini aku tidak melihat ayahku makan bersama kami lagi. Hanya aku dan ibu yang makan malam, memang seperti biasanya setiap makan malam kami tidak berbicara apapun tapi entah kenapa aku melihat muka ibu terlihat sedih saat ayah tidak makan malam bersama sekarang.

“ibu, kenapa ayah tidak makan malam bersama lagi?” tanyaku. “mungkin ayah sedang sibuk dengan kerjaannya, sudah tidak perlu dipikirkan habiskan makanannya jangan bicara sambil makan nanti kamu tersedak.”jawab ibuku. “iya bu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar