Bab 1
Kebetulan,
hanya kebetulan
Pagi
yang
cerah aku duduk di halaman rumah menjalani kehidupan seperti biasanya,
tiba-tiba saja terlihat dari kejauhan terlihat mobil menghampiri kawasan
ini. Tidak seperti biasanya karena kalau mobil biasa lewat ya jalan
biasa
tetapi mobil ini seperti sedang kebingungan mencari alamat. Kupikir
mobil itu pasti penghuni baru di depan rumahku karena aku pernah
menguping seseorang kalau rumah di depan sudah ada yang beli karena
sejak dua tahun
terakhir terpampang tulisan “dijual”.
Saat aku ingin masuk ke rumah tiba-tiba saja seseorang memanggilku “Hei! Bisa
kah saya bertanya?” tanya seorang pria ”oh, iya. Ada apa?” jawabku. “ apa kamu tau
alamat ini?”, “oh, itu yang ada tulisan dijual.”
Jawabku
“oh begitu, makasih ya.”, “iya sama-sama” kataku. Lalu aku beranjak
masuk ke kamarku “ah tetangga baru” terlintas sesaat di pikiranku.
Keesokan
harinya, hari-hari tidak seperti biasanya karena kalau aku duduk dihalaman
selalu hening dan tenang tetapi karena ada tetangga baru semua berubah menjadi
ramai. Hari pertama tinggal dia sudah membuatku kesal “kenapa harus banyak
orang datang kesini sih!” gumamku, mungkin bisa aku toleransi karena ini hari
pertama mereka tinggal disini tapi itu sangat membuat aku ga nyaman
karena aku ga suka sama keramaian. Tiba-tiba saja pria yang waktu itu bertanya
menghampiriku dan sudah kutebak gerakannya membuat aku ingin masuk ke
rumah.“Hei!Jangan masuk dulu” kata pria tersebut.
“ada apa?!” jawabku dengan nada sentak. “ayo
ikut merayakan hari pertama kami pindah rumah, kamu maukan jadi teman saya?”
pintanya dengan tulus.
“maaf aku sibuk, ya boleh aja kenapa engga?”
jawabku. “ayolah masa ga mau, saya ga ada temen nih
dirumah rame-rame sama sodara aja bakal bosan kalo saya ga ada temen.” jawabnya
sambil menarik tanganku dengan paksaan.
“ga usah tarik-tarik napa!”
“hahaha iya iya maaf, keliatannya kamu suka
banget sendiri ya?”
“bukan urusan kamu.”
Saat di rumahnya semua berubah seketika,
terakhir kali aku melihat rumah ini kotor banget, memang sudah semestinya karena
sudah dua tahun tidak di sentuh oleh orang lain. “siapa itu dy?” tanya ibunya.
“ ini tetangga depan rumah kita bu.”
“hei! Siapa nama kamu, tadi saya lupa nanya
nih.” bisiknya padaku. “Gaza, panggil aja itu.” jawabku.
“kenalin aku Nandy, Nandy Pilerg.” sambil melambaikan tangannya kepadaku.
“nama kamu kebagusan daripada orangnya.Namaku
Gaza Noward salam kenal.”
“kamu juga sama hahaha”
Perkenalan
singkat ini sebenarnya tidak begitu cepat membuat moodku berubah,
memang asik berada di keramaian tapi karena ga biasa ya itu membuat aku merasa
aneh. Suasana rumah yang sangat ramai sama saudaranya, tapi anehnya Nandy
ga mau gabung sama mereka dan mengajakku untuk msauk ke kamarnya. Sempat
terpikir olehku apa Nandy juga pria yang suka menyendiri? Tapi keliatannya
engga deh, tapi…. Ah mungkin itu hanya perasaanku saja, entah kenapa hal
ini membuat aku ingin bertanya langsung sama Nandy. “eh dy..” kataku. “iya
kenapa?”
“kenapa kamu ga gabung sama sodara kamu?” tanyaku.
“engga ah, males… makannya saya ngajak kamu
kerumah, kalo iya tadi kamu ga mau ikut pasti nanti sendiri lagi.”
“kenapa engga suruh teman kamu kesini, kenapa
harus aku?”
“mereka udah saya ajak, tapi ga pada mau kesini
jadi saya keluar rumah dan ga taunya ngeliat kamu lagi sendirian di halaman rumah
kamu ya saya ajak kamu jadinya hehehehe.”
Pertanyaan yang seharusnya tidak aku lontarkan
akhirnya keluar seketika oleh mulutku, tentu saja sangat canggung dan gemeteran
saat bicara dengannya tapi saat sudah dilakoni ya biasa saja, terlihat Nandy memang pria
yang ramah dia sangat gampang mendapatkan teman ketimbang aku yang selalu saja
menyendiri di dalam rumah. Ingin rasanya punya teman
sejati seperti orang-orang tetapi mungkin itu akan sulit untukku karena sifat
burukku ini yang selalu mengacuhkan perlakuan orang lain, perlakuan baik
ataupun buruk.
Suasana
hening seketika setelah perbincangan aku dengan Nandy sebelumnya, aku yang
kebingungan melihat kamar Nandy dan Nandy yang asik membaca komiknya membuat
suasana sangat hening sekali. Tidak lama dari suasana hening ini tiba-tiba
ada yang mengetuk pintu kamar Nandy dan tiba-tiba saja handphoneku berbunyi.
“siapa itu?” tanya Nandy. “ini gue bro.” saut seseorang dari luar kamar. Nandy pun
membukakan pintu kamarnya dan terlihat teman-temannya yang sedang senyum
gembira melihat Nandy. “wah lu, katanya ga pada bisa pada dateng gua kira gua
bener-bener bakal sendirian lagi.” kata Nandy. “nah, lu kan lagi ga sendirian?
Itu ada temen lu?”
“oh iya, kebetulan ini temen baru gua namanya
Gaza Noward, dia tetangga depan rumah gua.”
Karena suasana semakin ramai membuat aku semakin
keki dirumah Nandy, ingin rasanya cepet-cepet kembali ke rumah dan kembali pada
kegiatan awalku. Untungnya tadi handphoneku bunyi karena kepencet
play music dan aku jadikan alasan untuk keluar dari rumah Nandy yang semakin
lama semakin ramai. “nama saya Gaza, Gaza Noward. Salam kenal.. oh iya dy,
keliatannya temen kamu udah pada dateng nih aku izin pulang ya kebetulan juga
tadi aku di telpon ibu untuk pulang, jadi aku duluan ya.” kataku. “tapi, baru
juga kita mau seneng-seneng masa pulang duluan sih?” jawab Nandy. “tapi aku
udah di telpon ibu, maaf mungkin lain kali aja ya. Aku duluannya ya semuanya.”
Keluar dari rumah Nandy bagaikan keluar dari
kerumunan pengroyok perampok, agak sulit mencari alasan tapi akhirnya keluar
juga. Hari ini benar-benar membuatku melupakan sedikit rutinitas kebiasaanku,
benar-benar sedikit merubah kebiasaanku aku benar-benar takut merubah
rutinitasku kedepannya.
Berada
di dalam kamar sendiri mungkin itu yang membuatku sangat gembira, tapi entah
kenapa setelah keluar dari rumah Nandy aku merasakan seperti kehilangan
sesuatu. Sesuatu yang ga semestinya aku hilangkan, ahh… mungkin itu perasaan aku
saja. Tidak terasa hari minggu akan berakhir dan besok harus sekolah lagi
hal yang paling membuat aku tidak ingin sekolah karena upacara, selain ramai
banyak orang upacara sangat panas sekali.
“za, mandi sana udah sore terus jangan lupa
beresin perlengkapan buat besok sekolah terus jangan lupa buat makan malem
jangan di kamar terus za.” kata ibuku. “iya bu.” jawabku. Hanya kata iya yang bisa aku lontarkan kepada ibu
saat dia menyuruhku. Sebenarnya tidak hanya kepada ibu saja aku melontarkan
kata itu, sering kali aku dikatakan teman kelasku “kamu gampang banget diculik za,
hahaha.” karena aku gampang sekali menuruti perkataan orang yang dikenal
ataupun tidak. Tapi mau bagaimana lagi dengan begini aku pikir itu cara untuk
mendapatkan teman.
Selesai
mandi
aku langsung membereskan semua buku pelajaranku untuk sekolah besok,
kebetulan lemari bukuku dekat dengan jendela luar dan rumah Nandy sangat
terlihat jelas dari jendela kamarku. Aku mulai berpikir, apa aku bisa
berteman baik dengannya. Dari kejauhan aku melihat Nandy yang sedang
membersihkan tubuhnya dengan handuk, memang tidak terlihat jelas karena
dia
menutup jendelanya dengan tirai tapi cahaya lampu yang membuat bayangan
tubuhnya. Dia masih SMA tapi memiliki body yang bagus, pasti dia akan
menjadi seseorang yang sangat dikagumi banyak orang. Setelah membereskan
buku akupun berlari kemeja makan untuk makan malam bersama keluargaku,
tapi sudah seminggu ini aku tidak melihat ayahku makan bersama kami
lagi. Hanya aku dan ibu
yang makan malam, memang seperti biasanya setiap makan malam kami tidak
berbicara apapun tapi entah kenapa aku melihat muka ibu terlihat sedih
saat
ayah tidak makan malam bersama sekarang.
“ibu, kenapa ayah tidak makan malam bersama lagi?” tanyaku. “mungkin ayah sedang sibuk dengan kerjaannya, sudah tidak
perlu dipikirkan habiskan makanannya jangan bicara sambil makan nanti kamu
tersedak.”jawab ibuku. “iya bu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar